Friday, January 09, 2026

Servomotor dan Sistem Elektro-Hidrolik pada Steam Turbine: Aktuator Kecil Penentu Stabilitas Pembangkit


Dalam sistem pembangkit listrik tenaga uap, keandalan operasi tidak hanya ditentukan oleh komponen berskala besar seperti boiler, turbin, dan generator. Justru, kestabilan beban dan respons unit terhadap dinamika jaringan sangat bergantung pada komponen yang relatif kecil namun kritis, yaitu servomotor dan sistem elektro-hidrolik yang menggerakkannya.

Kegagalan atau keterlambatan respons pada sistem ini dapat memicu load hunting, penurunan performa unit, hingga trip turbin. Oleh karena itu, pemahaman menyeluruh mengenai peran servomotor dan prinsip kerja elektro-hidrolik menjadi aspek penting bagi engineer di bidang pembangkitan tenaga listrik.

Elektro-Hidrolik: Kombinasi Daya Besar dan Presisi Tinggi

Sistem elektro-hidrolik telah lama digunakan di berbagai sektor industri, terutama pada aplikasi yang membutuhkan gaya besar, respons cepat, serta akurasi tinggi. Sistem ini merupakan integrasi antara komponen elektrik sebagai pengendali dan sistem hidrolik sebagai penghasil gaya, dengan fluida kerja berupa zat cair—umumnya oli.

Keunggulan utama elektro-hidrolik terletak pada kemampuannya menggerakkan beban besar hanya dengan input energi yang relatif kecil. Namun, agar sistem bekerja secara optimal, aliran fluida harus dikendalikan secara presisi. Karakteristik fluida yang tidak linier menjadikan desain dan pengaturan sistem elektro-hidrolik sebagai tantangan tersendiri, khususnya pada aplikasi kritis seperti pengendalian turbin.

Prinsip Kerja Sistem Elektro-Hidrolik

Dalam sistem ini, pompa hidrolik mendorong oli dari tangki menuju katup kendali (valve). Ketika katup berada pada posisi tertutup, aliran oli terhambat sehingga tekanan dalam sistem meningkat. Untuk mencegah tekanan berlebih secara terus-menerus, katup akan membuka sesuai perintah sinyal kontrol.

Pada saat katup terbuka, piston di dalam aktuator bergerak, memungkinkan oli mengisi salah satu ruang silinder. Bersamaan dengan itu, oli dari ruang lainnya terdorong keluar menuju sistem filtrasi. Mekanisme ini menghasilkan gerakan linier yang presisi, yang kemudian dimanfaatkan untuk menggerakkan komponen mekanik seperti katup uap pada turbin.



Servomotor pada Steam Turbine

Dalam konteks steam turbine, istilah servomotor tidak merujuk pada motor listrik seperti pada sistem otomasi umum. Servomotor turbin uap adalah aktuator hidrolik, yang secara teknis lebih tepat disebut sebagai hydraulic servomotor atau electro-hydraulic actuator.

Fungsi utama servomotor adalah mengubah sinyal dari sistem governor—baik mekanik maupun elektro-hidrolik—menjadi gerakan mekanis yang mengatur posisi steam control valve, main stop valve, atau intercept valve. Dengan demikian, servomotor menjadi penghubung langsung antara sistem kontrol dan aliran energi uap menuju sudu turbin.

Posisi Servomotor dalam Sistem Kendali Turbin

Secara sistematis, servomotor bekerja dalam satu rantai kendali terpadu:

  • Setpoint kecepatan atau beban ditentukan oleh operator atau sistem jaringan.
  • Governor (DEH/EHG) memproses sinyal tersebut.
  • Sinyal kontrol diubah menjadi tekanan oli hidrolik.
  • Servomotor menggerakkan katup uap sesuai perintah.
  • Perubahan debit uap menghasilkan perubahan daya turbin.

Ketepatan dan kecepatan respons servomotor menjadi faktor kunci dalam menjaga kestabilan unit, khususnya saat terjadi fluktuasi beban atau gangguan jaringan.

Fail-Safe Mechanism: Bias Spring pada Servo valve

Pada electro-hydraulic servovalve, diterapkan sistem pengaman untuk mengantisipasi kegagalan, seperti hilangnya suplai daya atau sinyal kontrol. Sistem ini umumnya berupa bias spring (spring null-bias) yang terpasang di dalam servovalve.

Fungsi pegas ini adalah memastikan aktuator hidrolik bergerak menuju posisi aman (fail-safe) ketika kondisi abnormal terjadi. Dengan mekanisme ini, risiko overspeed dan kerusakan turbin dapat diminimalkan meskipun sistem kontrol kehilangan fungsinya.

Hydraulic Oil Supply: Tulang Punggung Sistem Kontrol

Seluruh kinerja servomotor dan servovalve sangat bergantung pada Hydraulic Oil Supply System. Sistem ini menyediakan oli hidrolik bertekanan tinggi yang digunakan tidak hanya untuk pengendalian katup uap, tetapi juga untuk sistem proteksi turbin, seperti trip oil system.

Kualitas, tekanan, dan kebersihan oli menjadi parameter kritis. Kontaminasi partikel atau air dalam oli dapat menurunkan respons servomotor, meningkatkan gesekan, dan pada akhirnya memengaruhi stabilitas operasi unit pembangkit.

Implikasi Operasional dan Tantangan Lapangan

Dalam praktik operasi, gangguan pada servomotor dan sistem elektro-hidrolik sering kali disalahartikan sebagai masalah sistem kontrol digital. Padahal, akar permasalahannya kerap berasal dari aspek mekanik dan hidrolik, seperti kebocoran internal, stiction, atau degradasi kualitas oli.

Pendekatan diagnostik yang tepat—menggabungkan analisis kontrol, inspeksi mekanik, dan manajemen oli—menjadi kunci untuk menjaga keandalan sistem turbin uap.

Referensi :

https://www.researchgate.net

Read more »

Saturday, September 20, 2025

Algomerasi pada boiler CFB

Boiler tipe Circulating Fluidized Bed (CFB) adalah sistem pemanas yang menggunakan media fluidized bed untuk menghasilkan uap. Algomerasi, atau penggumpalan partikel, dapat mempengaruhi efisiensi dan kinerja boiler. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipahami tentang algomerasi pada boiler tipe CFB:

  1. Penyebab Algomerasi:
    • Kualitas Bahan Bakar: Partikel yang terkandung dalam bahan bakar (seperti abu) dapat menggumpal dan membentuk lapisan pada permukaan boiler.
    • Suhu Rendah: Operasi boiler di bawah suhu kerja optimal dapat menyebabkan algomerasi.
    • Kelembaban Tinggi: Kelembaban tinggi dalam bahan bakar juga dapat memperburuk algomerasi.
  2. Dampak Algomerasi:
    • Penurunan Efisiensi: Lapisan partikel yang terbentuk mengurangi transfer panas dan mengurangi efisiensi boiler.
    • Kerusakan Pada Permukaan: Algomerasi dapat merusak permukaan boiler dan memperpendek masa pakai komponen.
  3. Cara Mengurangi Algomerasi:
    • Pemantauan Suhu: Pastikan boiler beroperasi pada suhu kerja yang optimal.
    • Penggunaan Economizer: Economizer dapat membantu mengurangi suhu gas buang dan mengurangi risiko algomerasi.
    • Pembersihan Rutin: Lakukan pembersihan permukaan boiler secara rutin untuk menghilangkan lapisan partikel.

Dampak jangka panjang dari algomerasi pada boiler tipe CFB (Circulating Fluidized Bed) dapat berdampak serius terhadap kinerja dan masa pakai sistem. Berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan:

  1. Penurunan Efisiensi: Algomerasi menyebabkan lapisan partikel pada permukaan boiler, mengurangi transfer panas dan efisiensi keseluruhan. Seiring waktu, penurunan efisiensi ini dapat mengakibatkan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi dan biaya operasional yang lebih besar.

2.    Kerusakan Komponen: Lapisan partikel yang terbentuk dapat merusak permukaan boiler, termasuk pipa, tabung, dan komponen lainnya. Kerusakan ini memerlukan perbaikan atau penggantian, yang dapat mempengaruhi biaya perawatan dan masa pakai boiler.

3.    Peningkatan Risiko Korosi: Algomerasi dapat mempercepat korosi pada permukaan logam. Korosi yang tidak terkendali dapat mengurangi masa pakai boiler secara signifikan.

4.    Pengurangan Kapasitas Produksi: Jika lapisan partikel terus bertambah, kapasitas produksi boiler dapat menurun. Ini berdampak pada kemampuan sistem untuk menghasilkan uap atau panas yang dibutuhkan.

 Untuk mencegah kerusakan akibat algomerasi pada boiler tipe CFB (Circulating Fluidized Bed), berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

  1. Pemantauan Rutin Suhu dan Tekanan:
    • Pastikan boiler beroperasi pada suhu kerja yang optimal dan tekanan yang sesuai.
    • Suhu yang terlalu rendah dapat memperburuk algomerasi, sementara suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada komponen.
  2. Pembersihan Permukaan Boiler:
    • Lakukan pembersihan permukaan boiler secara rutin untuk menghilangkan lapisan partikel.
    • Ini akan membantu mempertahankan efisiensi dan mencegah korosi.
  3. Penggunaan Economizer:
    • Economizer dapat membantu mengurangi suhu gas buang dan mengurangi risiko algomerasi.
    • Pastikan economizer berfungsi dengan baik dan terawat.
  4. Optimalkan Pemasangan Perisai Pelindung (Shields):
    • Pastikan perisai pelindung pada pipa preheater terpasang dengan baik.
    • Perisai ini membantu melindungi permukaan pipa dari partikel yang dapat menyebabkan kerusakan.
  5. Perhatikan Kualitas Bahan Bakar:
    • Gunakan bahan bakar berkualitas baik dan hindari bahan bakar yang mengandung partikel berlebihan.
    • Partikel dalam bahan bakar dapat mempercepat algomerasi.

 

Read more »

Wednesday, August 14, 2024

Belajar Boiler CFB, catat dulu...

Boiler fluidesasi memberikan kehandalan dan performance yang efisien jika dioperasikan dengan benar. Prinsip pengoperasian fluidesasi adalah keseragaman atau terjadinya fluidesasi yang merata pada bed (pasir). Ruang bakar fluidesasi terdiri dari nozzle yang mendistribusikan udara agar pasir silika dapat bergejolak dan dinding yang dilapis refractory. Udara fluidesasi didapat dari fan tekan. Pasir silica digunakan untuk material bed. Faktor yang dominan dari pasir adalah ukuran dan berate jenisnya.

Spesifikasi pasir silica harus sesuai dengan yang disarankan oleh pabrikan, jika terlalu kecil ukurannya maka pasir akan terbawa oleh hisapan ID Fan dan jika terlalu besar ukurannya maka pasir silika sukar untuk bubbling sehingga akan menyebabkan overheat dan pasir akan melting. Jika pasir sudah melting, maka harus dilakukan pergantian pasir silika total.

Pasir silika dimasukkan kedalam bed setinggi 300mm diatas permukaan nozzle dalam ruang bakar. Ketinggian ini diperlukan agar didapat fluidesasi yang merata. Kegunaan dari bed matrial adalah sebagai landasan atau untuk menenggelamkan bahan bakar yang akan dibakar didalam ruang bakar. Bed material tidak mengambil panas, tetapi menyediakan panas untuk menguapkan kadar airnya dan membakarnya. Bahan bakar akan terbakar didalam bed dan menjaga temperatur bed konstan.
Selain sebagai media transfer panas,  bed material juga berfungsi untuk menjaga nozzle yang terletak pada bagian dasar furnace agar tidak terlampau panas akibat proses pembakaran.

Read more »

Tuesday, January 16, 2024

Mengenal Chain Grate pada Boiler Stoker, mau?


Boiler stoker adalah jenis boiler yang menggunakan bahan bakar padat, seperti batu bara, biomassa, atau kayu. Sistem pembakaran pada boiler stoker menggunakan alat yang disebut chain grate.

Chain grate adalah sebuah konveyor bergerak yang terbuat dari rantai dan pelat baja. Rantai tersebut dihubungkan oleh pin dan diputar oleh motor penggerak. Pelat baja yang dipasang pada rantai berfungsi sebagai rak untuk meletakkan bahan bakar.


 

 Chain grate memiliki dua fungsi utama, yaitu:

  1. Menggerakkan bahan bakar dari hopper ke ruang bakar.
  2. Membagi bahan bakar menjadi lapisan-lapisan tipis agar pembakaran berlangsung lebih efisien.

Chain grate terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu:

  1. Furnace Chain
  2. Follower Shaft
  3. Driving Axile
  4. Ash Door & Door Frame
  5. Slag Stopper
  6. Frame
  7. Buffle Plate
  8. Gear Box

 


Rantai atau chain adalah komponen utama yang menggerakkan chain grate. Rantai tersebut harus terbuat dari bahan yang kuat dan tahan terhadap temperatur tinggi. Pelat baja yang dipasang pada rantai berfungsi sebagai rak untuk meletakkan bahan bakar. Pelat baja tersebut harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap korosi. Pin berfungsi untuk menghubungkan rantai. Motor penggerak berfungsi untuk menggerakkan rantai. Bearing berfungsi untuk menopang rantai. Baffle berfungsi untuk mengarahkan udara panas ke bahan bakar.
Kelebihan Chain Grate :

  • Tidak membutuhkan ruang yang besar
  • Tidak membutuhkan daya listrik yang besar
  • Biaya investasi tidak terlalu mahal

 Kelemahan  Chain Grate :

  • Rentan terhadap kerusakan karena moving part berada di tempat yang temperaturnya sangat tinggi
  • Membutuhkan perawatan yang rutn
Pemeliharaan Chain Grate
Chain grate harus dirawat secara rutin untuk menjaga performanya. Pemeriksaan dan pelumasan rantai harus dilakukan secara rutin untuk mencegah kerusakan rantai. Pemeriksaan dan penggantian pelat baja harus dilakukan jika pelat baja sudah aus atau rusak. Pemeriksaan dan penggantian pin harus dilakukan jika pin sudah aus atau rusak. Pemeriksaan dan penggantian bearing harus dilakukan jika bearing sudah aus atau rusak. Pemeriksaan dan pembersihan baffle harus dilakukan untuk memastikan baffle berfungsi dengan baik.
 

Read more »

Thursday, January 11, 2024

Perusahaan Pembangkitan PLN ikut transformasi, emang boleh?


Perusahaan Listrik Negara (PLN) merupakan salah satu perusahaan BUMN terbesar di Indonesia. PLN memiliki tanggung jawab untuk menyediakan listrik yang andal dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk memenuhi tanggung jawab tersebut, PLN terus melakukan transformasi agar dapat beroperasi secara lebih efisien, efektif, dan inovatif.
Pada tanggal 21 September 2022, PT PLN (Persero) melakukan transformasi organisasi menjadi subholdinga untuk bidang pembangkitan yaitu Indonesia Power menjadi PLN Indonesia Power (IP) dan PT Pembangkitan Jawa Bali menjadi PLN Nusantara Power. PLN IP mengelola  total kapasitas 22,9 GW sedangkan PLN NP mengelola 28,6 GW.

Anak perusahaan PLN NP pun tidak luput bertransformasi dimana PT PJB Investasi menjadi PT PLN Nusantara Renewables, PT PJB Services menjadi PT PLN Nusantara Power Services dan PT Rekadaya Elektrika menjadi PT PLN Nusantara Power Construction. Tidak luput juga perusahaan patungan dengan PLN NP dan PLN IP khusus suku cadang dari PT PLNSC menjadi PT PLN Suku Cadang.

Transformasi ini tidak hanya soal nama tetapi juga pengembangan bisnis kedepannnya seperti digital powerplant, EBT dan juga meningkatkan kualitas layanan terhadap pelanggan.

Read more »

Thursday, August 24, 2023

ASME B31.1 Power Piping, Standar Apa itu?

 Salah satu Code yang sering menjadi referensi desain piping untuk Pembangkit Listrik adalah ASME B31.1, yang merupakan bagian dari Code ASME B31 Pressure piping  tentang Power Piping.
ada gambar dapat dilihat garis pipa diatas dibagi menjadi tiga jenis:

  • Garis biasa, merupakan Piping dan Tubing pada Boiler, biasa disebut “ Boiler Proper” dan lingkup total dari Code ASME Boiler & Pressure Vessel (ASME BPV) baik dari teknikal maupun Hukum di Amerika
  •  Garis tebal, merupakan Piping dari/ke Boiler biasa disebut “Boiler External Piping” (BEP) masih menjadi Lingkup Hukum dari ASME BPV, sedangkan aspek Technical mengikuti ASME B31.1
  • Garis putus-putus, merupakan piping yang biasa disebut “Non Boiler External Piping (NBEP)” dan merupakan lingkup hukum dan Teknis dari ASME B31.1


referensi : www.pembangkitlistrik.com

Read more »